Bukan NPM tapi NPD

Today

NPM itu Node Package Manager kalo NPD itu kamu katanya

aku haus validasi makanya aku bikin tulisan ini, biar di validasi

Karna aku sempat berpikir, mungkin memang lebih aman untuk tidak terlihat.

Tidak banyak bicara. Tidak banyak berbagi. Tidak banyak muncul.

Karena setiap kali seseorang mulai terlihat, selalu ada saja yang merasa terganggu.

Sejak pindah ke kota ini, aku mulai sering menemui hal-hal seperti itu.

Orang-orang jadi lebih mudah memberi label.

“Narsis” “Haus validasi” “NPD” "Sok Ganteng" "Sok Alim" "Sok Keren" "Cringe" "Over"

Kata-kata itu dilempar begitu saja, ringan, tanpa beban. Seolah-olah memahami manusia bisa sesederhana melihat beberapa detik story, ngerasa udah setara psikolog. Lo bukan psikolog. Dan bahkan kalaupun lo psikolog, itu juga bukan ruang praktik lo. Padahal, hidup seseorang nggak pernah utuh di sosial media.

Mengunggah sesuatu di sosmed itu biasa saja. bagikan lah momen di setiap apa yang kamu lakukan, karna mengunggah momen bukan selalu soal pamer. Kadang itu cuma cara menikmati proses dan menghargai diri sendiri. Publikasi dan pamer itu beda yang satu ekspresi, yang lain niat. Karena cuma kamu yang tahu goals mu, yang lain cuma menilai.

Aku running. Aku foto. Aku bagikan. Aku ke gunung. Aku foto. Aku bagikan. Aku naik pesawat. aku foto. Aku bagikan. Aku nonton bola. aku foto. Aku bagikan.

Tidak ada pesan tersembunyi. Tidak ada niat pamer. Hanya ingin menyimpan momen kecil—bahwa hari itu aku bergerak.

Namun ternyata, bagi sebagian orang, itu cukup untuk disebut “narsis”.

Di situ aku mulai mengerti satu hal yang agak pahit.

Kadang, yang membuat sesuatu terlihat berlebihan bukanlah tindakannya, tapi sudut pandang orang yang melihatnya.

Aku tidak mengatakan semua orang salah. Tapi mungkin, kita terlalu sering menilai tanpa benar-benar memahami.

Lo posting? Dibilang pamer. Lo gak posting? Dibilang misterius. Lo aktif? Haus validasi. Lo diem? Sok eksklusif.

Padahal bisa saja itu hanya cara dia menghargai prosesnya sendiri. Kebahagiaan orang beda-beda. Cara orang mengekspresikan diri juga beda-beda. Dan yang paling penting: gak semua hal harus lo komentarin.

Lucunya, kita hidup di zaman di mana semua orang ingin berkembang, tapi tidak semua orang siap melihat orang lain berkembang. Di era digital, visibility itu penting. Bukan buat gaya-gayaan, tapi buat opportunity. Sosial media itu etalase gratis. Portfolio gratis. Tempat orang bisa ngecek: lo siapa, lo ngapain, dan lo punya value apa.

Ketika seseorang mulai konsisten, ada yang merasa tertinggal. Ketika seseorang mulai berani tampil, ada yang merasa terancam.

Dan perasaan-perasaan itu seringkali tidak diakui.

Akhirnya, berubah menjadi penilaian.

Lebih mudah menyebut orang lain “narsis” daripada bertanya, “kenapa aku merasa tidak nyaman melihat ini?”

Lebih mudah memberi label daripada bercermin.

Aku juga sempat ragu.

Haruskah aku berhenti berbagi? Haruskah aku mengecilkan diri agar terlihat “lebih baik”? Haruskah aku diam supaya tidak menyinggung siapa pun?

Tapi semakin aku pikirkan, semakin terasa aneh.

Kenapa aku harus mengecil hanya supaya orang lain merasa nyaman? Bukankah setiap orang punya ruangnya masing-masing? Bukankah hidup ini memang tentang bergerak, mencoba, dan—kadang—menunjukkan bahwa kita sedang berusaha?

Aku mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.

Di era sekarang, terlihat bukan berarti sombong. Terlihat kadang hanya berarti hadir. Dan hadir itu penting.

Karena dunia tidak selalu mencari yang paling pintar, tapi seringkali menemukan yang paling terlihat.

Kesempatan, relasi, bahkan kepercayaan semuanya sering datang kepada mereka yang muncul.

Padahalkan sebenarnya, selalu ada pilihan yang jauh lebih sederhana.

Tidak semua hal harus kita komentari. Tidak semua hal harus kita pahami.

Kadang, cukup lewat saja. Atau kalau benar-benar tidak suka, cukup menjauh atau bahkan blokir. itu pilihan simple tanpa perlu menjadikan hidup orang lain sebagai bahan penilaian.

Dan buat yang masih sok “misterius”, sok low profile padahal belum punya apa-apa— Jujur aja ya…

Low profile itu keren kalau emang ada profile-nya. Kalau belum ada, itu bukan low profile. Itu belum mulai.

Jadi ya udah lah.

Lo mau posting? Posting aja. Lo mau share progress? Gas. Lo mau nunjukin kerjaan lo? Silakan. Lo mau diem juga gapapa.

Dunia gak ngebayar orang yang paling banyak diem. Dunia ngebayar orang yang berani muncul, berani nunjukin value, dan berani ambil ruang.

Sisanya?

Cuma penonton yang sibuk komentar.

berisik jamet.. kalo belum jadi konglo gak usah sok misterius. nanti lu gak punya relasi, gak dapat project, atau kerja jangan nyalahin pemerintah, takdir bahkan tuhan. boleh nyalahin pemerintah kalo soal MBG dan potongan pajak gede.