Ibu, Jakarta!

Today

“Jakarta bukan kota yang ramah bagi mereka yang sering termenung.”

Jakarta bukan kota yang ramah bagi mereka yang sering termenung. Ia bergerak dengan cara yang kejam: lampu-lampu memantul di aspal basah, klakson saling sahut, manusia berjalan cepat tanpa saling menoleh. Aku di antaranya, Raut wajah tersamar di balik kaca mobil. Hati yang dulu riuh kini sunyi, lebih memilih diam, lebih banyak menimbang daripada berharap. pandangan menatap ke gedung tinggi dan langit yang tak sepenuhnya biru.


Langit Khoirur Rozaq

Lihat bu, Aku menyukai langit itu.

Ia luas dan lugu. Tempat segala doa digantungkan, segala luka dibiarkan melayang. Jika aku sedang terluka, aku percaya langit lebih luas daripada lukaku. Jika aku sedang putus asa, aku percaya langit lebih luas daripada putus asaku. Mungkin karena itulah aku masih bisa menatap ke atas, meski kakiku tertanam di tanah yang keras, penuh debu, penuh janji yang tak pernah ditepati. lalu bagaimana dengan hati ?


Ada seseorang berjalan di sisiku tapi sepertinya bukan untuk menetap, hanya untuk singgah. Aku tidak marah. Aku bahkan tidak kecewa. Di kota sebesar ini, rasa sayang tak selalu harus memiliki nama, tak harus diikat dengan genggam tangan. Ada perasaan yang cukup hanya sampai di mata, selebihnya biarkan ia pulang. ntahlah.. mungkin harus menjadi gila agar bisa mencintai tanpa rasa sakit. Ada beban lain yang ikut berjalan bersamaku: kenyataan bahwa hidup semakin keras, dan kedewasaan menuntut lebih banyak dari sekadar bertahan.

Aku ingin mencintaimu semampuku selebihnya biarkan tuhan bekerja.


Memang menjadi dewasa itu ternyata keras, ya, Bu.

Apa-apa yang dulu di pikiran ibu, sekarang jadi pikiranku.

Tentang bagaimana mencari makan dengan harga yang terus bergerak. Tentang bagaimana menjaga diri ketika orang-orang hanya datang untuk meminjam kepercayaan, lalu pergi membawa sebagian darinya. Aku lebih berhitung sekarang; bukan karena tak lagi ingin percaya, tapi karena tahu setiap kepercayaan yang hilang selalu membawa luka yang tak bisa dikembalikan. mungkin cara terbaik adalah diam.


Tapi aku ini petarung, Bu.

Aku masih berjalan, meski kakiku gemetar. Masih melawan, meski sering tak tahu lawannya siapa—keadaan, waktu, atau diriku sendiri. Aku tidak ingin menang dengan gegap gempita; aku hanya ingin bertahan sampai besok, sampai lusa, sampai hari di mana dunia tidak lagi begitu menuntutku menjadi orang yang selalu kuat.


Bu, jika suatu hari aku gagal, dan gagal lagi, lalu waktu mengikis usiaku, apalagi yang bisa kumiliki kalau bukan rengkuh tanganmu, Ibu? Ada malam-malam ketika aku berharap menjadi anak kecil lagi—yang hanya tahu menggigil di bawah selimut dan menemukan hangatmu di sana, tanpa perlu mengerti harga listrik yang belum terbayar atau siapa yang menyakiti lebih dulu.


Di bawah langit yang tak sepenuhnya biru, aku mendongak lagi. Jakarta tetap riuh, tetap gaduh, tetap berjalan. Aku pun begitu. Barangkali petarung sejati bukan yang selalu menang, melainkan yang tetap memilih berdiri di tengah kota yang tak pernah menghibur, meski seluruh rencana yang kubawa berulang kali dikembalikan dalam keadaan tak sesuai janji.

Menjadi dewasa harus siap mental, untuk kehilangan banyak hal. hidup kadang memang brengsek. tak kurang tak lebih. aku hanya butuh berlatih menertawakan perih.