Aku pernah berpikir bahwa sepertinya lebih menyenangkan menjadi adikku, ia hanya perlu fokus sekolah, tidak perlu pusing memikirkan pekerjaan kantor yang membuat pusing apalagi soal percintaan. Aku pun mulai memikirkannya lebih jauh, mengapa adikku ini banyak mengeluh, bukankah dia hanya pusing oleh tugas sekolah saja?
Sedangkan aku, aku harus menyelesaikan banyak pekerjaan, memikirkan untuk biaya dia sekolah, paketan, uang jajan, belum lagi aku harus mengerjakan pekerjaan sampingan. Pikirku itu jauh lebih berat ketimbang tugas dari sekolah dia.
Tugas-tugas dari sekolah "tidak apa-apa" bila tidak dikerjakan atau masih ada remedial bila ada yang kurang. Lagi pula apa capeknya? Pekerjaanku jauh lebih berat! Ribet!
Seringkali aku harus begadang, bahkan di kasus yang lebih buruk aku bangun pagi karena telepon dari atasan di kantorku. Hal seperti itu aku alami saat awal-awal aku menjadi seorang software-engineer, dan aku alami itu lebih dari 4 tahun.
Belum lagi aku masih harus mengerjakan kerjaan di luar kantor, aku kerjakan itu semalaman, tidak jarang aku tidur sehabis waktu subuh.
Hal-hal semacam itu yang seringkali menjadi awal pikiranku yang membandingkan beban yang aku alami dengan adikku. Pemicunya tak jarang saat adikku mengeluh soal tugas-tugas dia yang menurut dia begitu berat atau saat adikku sedang santai, aku jadi memikirkan betapa enaknya jadi mereka ini.
Apalagi ketika dia sedang menangis kadangkala aku bertanya pada diriku sendiri, "Bukankah seharusnya aku yang melakukan itu? Aku yang menjalani beban yang begitu banyak ini."
Semakin lama aku jalani menjadi salah seorang yang paling diandalkan, tentu memberiku banyak pelajaran, banyak kebijaksanaan permusyawaratan dan perwakilan.. dah kek pancasila aja.
Sebenarnya aku tak bisa bilang adikku ini tidak capek hanya karena mereka tak menjalani pekerjaan sepertiku. Tentu saja kita memiliki perannya masing-masing. Bagi adikku ini tugas-tugas yang dia dapatkan dari sekolah sudah menjadi ke-capek-annya sendiri.
Bagi mereka tugas-tugas semacam itu sudah membuat lelah dan seringkali stress. Tak jarang bila dia sudah mencapai titiknya, dia lampiaskan dengan menangis namun masih mereka kerjakan tugas-tugas itu. Tidak apa-apa menangis, kita semua memang pernah menangis. Itu bukan sesuatu yang hina.
Saat aku mencapai titik kelelahanku, aku lebih baik diam dan merenung menangis sendirian atau main mobile legend dan roblox ketimbang aku melampiaskannya pada sesuatu yang lebih buruk, seperti memaki atau memarahi orang lain hanya karena merasa kita capek. Selain itu aku bisa menghindari berkata yang akan menyakiti hati orang lain, tentu lebih buruk!
Pikiran-pikiran dahuluku tentu begitu arogan, seolah aku berhak merasa paling capek satu planet ini. Seolah-olah tidak ada lagi yang berhak lebih capek dariku. Seolah karena aku capek maka aku berhak melakukan apapun. Seolah hanya karena orang lain tidak sama capeknya denganku maka mereka aku anggap tidak capek sama sekali.
Tentu semua orang itu capek, mereka memiliki capeknya sendiri. Adikku yang harus menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, Tentu dia ini termasuk orang-orang yang capek. Dia capek pada tanggungjawabnya masing-masing. Mereka capek sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing.
Bukankah Allah sudah begitu adil? Ia memberikan porsi capek pada individu-individu yang tepat. Sayangnya, arogansi kitalah yang membuat seolah kita ini adalah individu yang paling capek satu galaksi Bima Sakti.
Capek itu tidak-apa, karena kita semua memang capek. Menangis karena capek pun tidak apa-apa, sebab menangis merupakan proses pemulihan tubuh dari tekanan emosi. Berpikir kita adalah manusia paling capek di planet ini, itu yang tidak boleh, sebab akan memunculkan arogansi. Seolah-olah kita berhak melakukan apapun pada siapapun.
Kita harus lebih mengerti individu lain, mereka juga sama capeknya seperti kita, hal ini akan menumbuhkan kebijaksanaan. Tak perlu memberi makan ego, sebab tabiat kita adalah saling mengerti.
Udah.. gak apa-apa, kita semua memang capek.