Usai

December 14, 2025 (1w ago)

Dia kini seperti nama yang masih tersisa, tapi tak lagi punya tempat untuk kusebut. Bukan karena lupa, melainkan karena jarak yang pelan-pelan kita pilih sendiri. Aneh rasanya, bagaimana seseorang yang dulu begitu dekat, tahu kebiasaan setiap hari, tahu caraku diam saat lelah, sekarang terasa seperti orang asing yang kebetulan pernah singgah lama.

Kadang aku bertanya, apakah semua dorang di dunia ini memang akan berakhir seperti itu. Ketika sudah tidak lagi bersama, apakah keasingan adalah satu-satunya bentuk yang tersisa? dulu pernah berbagi tawa yang sama, cerita yang sama, bahkan diam yang terasa nyaman. Aku sempat berpikir, mungkin kita bisa berteman seperti dulu. Tidak lagi saling memiliki, tapi setidaknya saling mengenal. Namun ternyata tidak semua hubungan bisa diturunkan levelnya tanpa menyisakan perasaan yang tertinggal.

Kami sama-sama tahu bahwa bersama bukan lagi kemungkinan. Bukan karena perasaan yang kurang, melainkan karena keadaan keluarga yang belum mengizinkan.. Lalu mengapa harus memilih asing? Apakah aku pernha sejahat itu? Aku pernah melukai? Aku pernah membentak? Bukan itu kan masalahnya? Mungkin karena bertahan sebagai teman justru akan membuka luka yang belum sepenuhnya sembuh. Mungkin ada rasa takut—takut harapan kecil tumbuh tanpa sadar, takut kenangan datang terlalu sering, atau takut proses melupakan menjadi lebih lama dari yang seharusnya. Keasingan, pada akhirnya, asing adalah cara paling aman untuk bertahan.

Beberapa rencana dan tujuanmu sudah aku catat dan tinggal menunggu waktu. rumah kecil yang kau bayangkan perlahan sudah aku siapkan. ke tanah suci bersama sedang menunggu untuk mendapat kabar. tentang kucingmu bagaimana ? apakah masih ingin dibuatkan rumah kecil juga ?

Sekarang rencana yang kau bicarakan perlahan kugeser menjadi milikku sendiri. Dan mungkin, suatu hari nanti, perjalanan itu akan kulanjutkan dengan orang lain sebagai seseorang yang baru, dengan cerita yang berbeda.

Aku melanjutkan semuanya bukan karena masih berharap kamu kembali, tapi karena ada janji pada diri sendiri yang ingin kutepati. Bahwa mimpi tetap layak diperjuangkan, meski orang yang dulu mengajarkanku cara bermimpi sudah berjalan ke arah lain. Tidak semua hal harus selesai bersama untuk bisa disebut berarti.

Yang paling kusayangkan bukan perpisahannya, tapi perubahan yang terjadi setelahnya. Dari begitu dekat, lalu tiba-tiba asing. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada drama berlebihan. Hanya jarak yang tumbuh, dan keputusan untuk tidak lagi saling menyapa. Kadang keasingan memang tidak datang dengan kebencian, melainkan dengan penerimaan bahwa tidak semua yang pernah dekat harus tetap tinggal.

Jika suatu hari kamu melihat dari jauh, mungkin kamu tak akan tahu bahwa sebagian langkahku hari ini lahir dari percakapan sederhana kita di masa lalu. Dan itu tidak apa-apa. Cukup aku yang tahu, cukup aku yang menyimpan. Karena pada akhirnya, beberapa cinta memang tidak dimiliki, hanya diteruskan dalam bentuk yang lebih tenang: keikhlasan.

Keasingan bukan selalu tanda kehilangan, kadang ia hanya bentuk lain dari menjaga diri.

Mari kita akhiri, kita reset seperti sebelum kita saling mengenal. END - kamu berhak bahagia.